Showing posts with label Photography. Show all posts
Showing posts with label Photography. Show all posts

Wednesday, February 25, 2015

Membuat Efek Softfocus (dreamy) dengan Photoshop

Soft focus dreamy main
Kita akan membuat efek soft focus (dreamy) pada sebuah foto landscape dengan hasil akhir seperti foto diatas. Efek dreamy focus ini bisa dipakai baik untuk foto landscape, portrait atau jenis apapun. Mari kita mulai:

Langkah 1. Sharpening foto dengan Unsharp Mask

Langkah sharpening biasanya dilakukan pada saat terakhir melakukan edit, namun karena kita akan melakukan softening, sharpening kita lakukan pertama kali. Setelah anda membuka foto di Photoshop, lakukan sharpening memanfaatkan Unshar Mask filter. Klik Filter > Sharpen > Unsharp Mask.
Unsharp mask
Saat muncul kotak dialog, isikan Amount 120%, Radius 1 dan Treshold 3.
Unsharp mask 2

Langkah 2. Duplikat layer

Untuk melakukan duplikat, cukup pencet Control-J (Mac: Command – J).
Duplikat layer

Langkah 3. Gaussian Blur

Sekarang kita akan memblurkan layer teratas dengan filter gaussian blur. Pencet Filter > Blur > Gaussian Blur.
Gaussian blur
Foto dilayer teratas akan terlihat blur seperti ini:
Blur

Langkah 4. Ubah Opacity

Langkah terakhir adalah dengan mengubah opacity di layer teratas yang tadi sudah kita blurkan, di panel Layer ubah opacity layer teratas, sambil perhatikan hasil akhir foto set opacity diangka sekitar 30-40%, saya set di angka 36% dengan hasil seperti berikut:
Soft focus dreamy

Menggunakan Teknik Back Button Focus di Kamera DSLR

Secara standar, cara kita mengunci fokus adalah dengan memencet tombol shutter separuh. Namun sebenarnya ada satu fitur yang lebih sering dimanfaatkan fotografer pro untuk mengunci fokus, yaitu dengan memanfaatkan tombol AF-ON. Teknik fokus dengan tombol ini dinamai “back button focus” karena memang memanfaatkan tombol yang ada di belakang, bukan tombol shutter didepan.
trik-back-button-focus

Apa itu back button focus ?

Back button focus adalah fitur autotokus dengan memanfaatkan tombol tertentu dibagian belakang kamera, biasanya adalah tombol AF-ON atau (*) dan biasanya dipencet dengan jempol kanan. Kalau di belakang kamera DSLR anda ada tombol dengan tulisan AF-ON, maka teknik ini bisa dipakai secara langsung dengan mudah. Kalau tidak ada jangan khawatir, anda tetap bisa melakukan teknikback button focus dengan melakukan setelan khusus di pengaturan menu kamera.

Apa keuntungan menggunakan teknik back button focus ?

Keuntungan utama autofokus dengan tombol AF-ON  adalah bahwa kita tidak perlu lagi memencet tombol shutter separuh. Cukup dengan menekan tombol AF-ON dengan jempol agar autofokus mulai mengunci lalu kita bisa melakukan komposisi ulang (recompose) saat memotret obyek diam atau melakukan tracking saat memotret objek bergerak. Kalau sudah oke dan ingin mengambil foto, tinggal kita pencet tombol shutter penuh tanpa melepas tombol AF-ON.
Back button focus sangat bermanfaat saat kita menggunakan mode autofokus continuous atau tracking objek bergerak dan saat kita melakukan recompose. Saat menggunakan mode continuous dan dengan memanfaatkan back button focusing, kita bisa membebaskan tombol shutter dari kewajiban mengunci fokus. Kalau anda sering memotret dalam mode continous, pasti pernah mengalami kejadian dimana kita ingin mengunci fokus namun yang terjadi justru tombol fokus ter-pencet penuh hingga kamera mengambil foto secara tidak sengaja.

Beberapa skenario dimana back button focus sangat berguna

Berikut ini beberapa skenario pemotretan dimana penggunaan back button focus akan sangat membantu kelancaran proses. Berikut ini sekedar contoh:
  • Saat memotret anak-anak kecil yang terus bergerak, atau saat memotret olahraga. kita bisa meminimalkan waktu tunda antara menekan shutter separuh dan saat exposure. Cukup tekan AF-ON dengan jempol untuk mengunci fokus lalu ambil exposure secepatnya dengan jari telunjuk
  • Saat foto potret orang yang hanya sedikit mengubah pose antara satu foto dengan foto berikutnya. Anda bisa memotret dengan sangat cepat tanpa harus repot memilih titik fokus baru
  • Dalam situasi di mana kamera bingung memilih fokus. Misalnya saat memotret macan dibalik pagar kawat besi, kadang kamera bingung dan memilih fokus di pagar dan bukan di macan. Dengan back button focus kita bisa mengunci fokus di macan lalu baru melakukan komposisi ulang
  • Saat kita menginginkan foto yang sangat tajam. Dengan memencet tombol shutter separuh lalu menahannya untuk mengunci fokus, berat kamera akan bergeser ke depan sehingga kestabilan berkurang dan akibatnya foto lebih rentan blur. Teknik back button ini mengatasinya

Bagaimana cara menggunakan back button focus di kamera DSLR Canon

Untuk kamera high-end Canon seperti 5D mark III , 6D atau 7D mark II tombol AF-On sudah tersedia. Untuk mengaktifkan teknik back button focus secara penuh, yang perlu kita lakukan adalah mematikan fungsi autofokus di tombol shutter. Caranya: masuk ke menu >> Custom Function 2 >> Custom Control. Di sini anda bisa mengubah fungsi tombol shutter dari Metering & AF Start ke Metering Only.
trik-back-button-focus-canon
Untuk kamera Canon yang tombol AF-ON belum tersedia, kita bisa memanfaatkan tombol asterik (*) atau tombol AE-L untuk menjadi tombol AF-ON. Alur pengaturan di menu kamera kurang lebih seperti ini:
  1. Posisikan roda mode operasi di salsh satu PSAM jangan Auto  agar kita bisa masuk ke Custom Controls.
  2. Pencet tombol Menu lalu gunakan Main Dial untuk memilih Custom Controls, lalu pilih opsi bernama “Shutter/AE Lock Button”. Dari sini pilihan akan bervariasi tergantung kamera, yang haru sdiingat adalah angka sebelum garis miring menunjukkan tombol shutter sementara angka setelah garis miring menunjukkan tombol asterik (*) atau AE-Lock.
  3. Pada intinya anda ingin mengubah kombinasi fungsi tombol Shutter/AE-Lock  menjadi Metering start/Meter + AF Start

Bagaimana cara menggunakan back button focus di kamera DSLR Nikon

Di kamera Nikon yang sudah disediakan tombol AF-On dibelakang, caranya cukup mudah untuk mengaktikan back button focus. Masuk ke Menu lalu masuk ke Custom Setting Menu (ikon pensil), lalu ke bagian autofocus. Carilah AF activation lalu pilih AF-On. Pencet OK untuk mengaktifkan. Ini membuat tombol shutter di kamera hanya bertugas untuk mengambil foto, sementara tugas mengunci titik fokus di serahkan ke tombol AF-On.
teknik-back-button-focus-nikon
Untuk kamera DSLR Nikon tanpa tombol AF-On di belakang, kita perlu menugaskan tombol lain dibelakang untuk mengganti peran AF-On. Masuk ke Menu, lalu Custom Settings lalu Controls. Pilih Assign AE-L/AF-L button lalu geser ke bawah ke AF-ON, lalu pencet OK. Sekarang tombol AE-L/AF-L yang ada dibelakang sudah berubah fungsi menjadi AF-On hingga anda bisa menggunakan teknik back button focusng.
Bagaimana dengan kamera lain? silakan buka manual resmi kamera, kalau istilah back button focus tidak ditemukan bisa dicari dengan istilah autoofocus lock.

Wednesday, December 31, 2014

PENGERTIAN DAN SEJARAH FOTOGRAFI

Salam Blogger untuk kita semua ;) sebelumnya saya ucapkan selamat Tahun Baru 2015 ya.. Kalo biasanya saya keluar bersenang-senang menyambut tahun baru, tapi di pergantian tahun kali ini saya berpacaran dengan blog kesayangan. Nah langsung aja ya, topik yang ingin saya bagikan ke kalian adalah Pengertian dan Sejarah Fotografi. selamat membaca dan semoga bermanfaat untuk semua. :)

Pengertian Fotografi

Fotografi  (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu “Photos”: cahaya dan “Grafo”: Melukis) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. 
Fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), Diafragma (Aperture), dan Kecepatan Rana (Speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (Exposure). Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO.

Sejarah Fotografi

Sejarah Fotografi dimulai pada abad ke-19. Tahun 1839 merupakan tahun awal kelahiran fotografi. Pada saat itu, di Perancis dinyatakan secara resmi bahwa fotografi adalah sebuah terobosan teknologi. Saat itu, rekaman dua dimensi seperti yang dilihat mata sudah bisa dibuat permanen.
Sejarah fotografi bermula jauh sebelum Masehi. Pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM), seorang pria bernama Mo Ti mengamati suatu gejala. Jika pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang kecil(pinhole), maka di bagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi. Mo Ti adalah orang pertama yang menyadari fenomena kamera obscura. 
Berabad-abad kemudian, banyak yang menyadari dan mengagumi fenomena ini, sebut saja Aristoteles pada abad ke-3 SM dan seorang ilmuwan Arab Ibnu Al Haitam (Al Hazen) pada abad ke-10 SM, yang berusaha untuk menciptakan serta mengembangkan alat yang sekarang dikenal sebagai kamera. Pada tahun 1558, seorang ilmuwan Italia, Giambattista della Porta menyebut ”camera obscura” pada sebuah kotak yang membantu pelukis menangkap bayangan gambar.
Nama kamera obscura diciptakan oleh Johannes Kepler pada tahun 1611. Johannes Kepler membuat desain kamera portable yang dibuat seperti sebuah tenda, dan memberi nama alat tersebut kamera obscura. Didalam tenda sangat gelap kecuali sedikit cahaya yang ditangkap oleh lensa, yang membentuk gambar keadaan di luar tenda di atas selembar kertas.
gambar kamera obscura
seniman pada abad-19 menggunakan kamera obscura untuk membuat sketsa
gambar kamera obscura 2
gambar 3D kamera obscura

Berbagai penelitian dilakukan mulai pada awal abad ke-17 ,seorang ilmuwan berkebangsaan Italia – Angelo Sala menggunakan cahaya matahari untuk merekam serangkaian kata pada pelat chloride perak. Tapi ia gagal mempertahankan gambar secara permanen. Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang berkebangsaan Inggris bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra pada kamera obscura berlensa, hasilnya sangat mengecewakan. Humphrey Davy melakukan percobaan lebih lanjut dengan chlorida perak, tapi bernasib sama juga walaupun sudah berhasil menangkap imaji melalui kamera obscura tanpa lensa.
Akhirnya, pada tahun 1824, seorang seniman lithography Perancis, Joseph-Nicephore Niepce (1765-1833), setelah delapan jam meng-exposed pemandangan dari jendela kamarnya, melalui proses yang disebutnya Heliogravure (proses kerjanya mirip lithograph) di atas pelat logam yang dilapisi aspal, berhasil melahirkan sebuah gambar yang agak kabur, berhasil pula mempertahankan gambar secara permanen. Ia melanjutkan percobaannya hingga tahun 1826, inilah yang akhirnya menjadi sejarah awal fotografi yang sebenarnya. Foto yang dihasilkan itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS.
foto pertama permanen
“View from the Window at Le Gras” foto pertama yang berhasil dicetak meskipun masih tampak kabur, dibuat oleh Joseph Nicéphore Niépce

Penelitian demi penelitian terus berlanjut hingga pata tanggal tanggal 19 Agustus 1839, desainer panggung opera yang juga pelukis, Louis-Jacques Mande’ Daguerre (1787-1851) dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat foto yang sebenarnya: sebuah gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi larutan iodin yang disinari selama satu setengah jam cahaya langsung dengan pemanas merkuri (neon). Proses ini disebut daguerreotype. Untuk membuat gambar permanen, pelat dicuci larutan garam dapur dan asir suling. Januari 1839, Daguerre sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Akan tetapi, Pemerintah Perancis berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara cuma-cuma.
Foto Louis Daguerre
“Boulevard du Temple” foto pertama yang diakui secara umum, dibuat oleh Louis Daguerre

Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Melalui perusahaan Kodak Eastman, George Eastman mengembangkan fotografi dengan menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis, sejalan dengan perkembangan dalam dunia fotografi melalui perbaikan lensa, shutter, film dan kertas foto.
Tahun 1950, untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex maka mulailah digunakan prisma (SLR), dan Jepang pun mulai memasuki dunia fotografi dengan produksi kamera Nikon yang kemudian disusul dengan Canon. Tahun 1972 kamera Polaroid temuan Edwin Land mulai dipasarkan. Kamera Polaroid mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan pencetakan film.

Kemajuan teknologi turut memacu fotografi secara sangat cepat. Kalau dulu kamera sebesar tenda hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran.

Sunday, December 28, 2014

PENGENALAN JENIS-JENIS FOTO DAN TEKNIS DASAR PEMOTRETAN

Memotret adalah proses kreatifitas yang tidak hanya sekedar membidik obyek yang akan kita rekam dan kemudian menekan tombol shutter pada kamera. Dalam menciptakan sebuah karya foto kita harus mempunyai ide (konsep) yang matang agar tidak mengalami kesulitan dilapangan dan yang tidak kalah pentingnya adalah memahami tentang komposisi, ketajaman dan pencahayaan (teknis).


JENIS-JENIS FOTO

Materi jenis-jenis foto ini bertujuan untuk memperkenalkan beberapa jenis foto sebagai referensi lebih jauh lagi dalam memperdalam pengetahuan dunia fotografi. Jenis-jenis foto disini hanya sebagai pengelompokan secara garis besar, yang membantu mempermudah kita dalam memahami sebuah karya fotografi, dan ini bukan sebagai penggolongan yang paten untuk menghasilkan karya foto.

  • FOTO MANUSIA

Foto manusia adalah semua foto yang obyek utamanya manusia, baik anak-anak sampai orang tua, muda maupun tua. Unsur utama dalam foto ini adalah manusia, yang dapat menawarkan nilai dan daya tarik untuk divisualisasikan. Foto ini dibagi lagi menjadi beberapa kategori yaitu :

a. Portrait

Portrait adalah foto yang menampilkan ekspresi dan karakter manusia dalam kesehariannya. Karakter manusia yang berbeda-beda akan menawarkan image tersendiri dalam membuat foto portrait. Tantangan dalam membuat foto portrait adalah dapat menangkap ekspresi obyek (mimic, tatapan, kerut wajah) yang mampu memberikan kesan emosional dan menciptakan karakter seseorang.

b. Human Interest

Human Interest dalam karya fotografi adalah menggambarkan kehidupan manusia atau interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari serta ekspresi emosional yang memperlihatkan manusia dengan masalah kehidupannya, yang mana kesemuanya itu membawa rasa ketertarikan dan rasa simpati bagi para orang yang menikmati foto tersebut.

c. Stage Photography

Stage Photography adalah semua foto yang menampilkan aktivitas/gaya hidup manusia yang merupakan bagian dari budaya dan dunia entertainment untuk dieksploitasi dan menjadi bahan yang menarik untuk divisualisasikan.

d. Sport

Foto olahraga adalah jenis foto yang menangkap aksi menarik dan spektakuler dalam event dan pertandingan olah raga. Jenis foto ini membutuhkan kecermatan dan kecepatan seorang fotografer dalam menangkap momen terbaik.

  • FOTO NATURE

Dalam jenis foto nature obyek utamanya adalah benda dan makhluk hidup alami (natural) seperti hewan, tumbuhan, gunung, hutan dan lain-lain.

a. Foto Flora

Jenis foto dengan obyek utama tanaman dan tumbuhan dikenal dengan jenis foto flora. Berbagai jenis tumbuhan dengan segala keanekaragamannya menawarkan nilai keindahan dan daya tarik untuk direkam dengan kamera.

b. Foto Fauna

Foto fauna adalah jenis foto dengan berbagai jenis binatang sebagai obyek utama. Foto ini menampilkan daya tarik dunia binatang dalam aktifitas dan interaksinya.

c. Foto Lanskap

Foto lanskap adalah jenis foto yang begitu popular seperti halnya foto manusia. Foto lanskap merupakan foto bentangan alam yang terdiri dari unsur langit, daratan dan air, sedangkan manusia, hewan, dan tumbuhan hanya sebagai unsur pendukung dalam foto ini. Ekspresi alam serta cuaca menjadi moment utama dalam menilai keberhasilan membuat foto lanskap.

  • FOTO ARSITEKTUR

Kemanapun anda pergi akan menjumpai bangunan-bangunan dalam berbagai ukuran, bentuk, warna dan desain. Dalam jenis foto ini menampilkan keindahan suatu bangunan baik dari segi sejarah, budaya, desain dan konstruksinya. Memotret suatu bangunan dari berbagai sisi dan menemukan nilai keindahannya menjadi sangat penting dalam membuat foto ini. Foto arsitektur ini tak lepas dari hebohnya dunia arsitektur dan teknik sipil sehingga jenis foto ini menjadi cukup penting peranannya.

  • FOTO STILL LIFE

Foto still life adalah menciptakan sebuah gambar dari benda atau obyek mati. Membuat gambar dari benda mati menjadi hal yang menarik dan tampak “hidup”, komunikatif, ekspresif dan mengandung pesan yang akan disampaikan merupakan bagian yang paling penting dalam penciptaan karya foto ini. Foto still life bukan sekadar menyalin atau memindahkan objek ke dalam film dengan cara seadanya, karena bila seperti itu yang dilakukan, namanya adalah mendokumentasikan. Jenis foto ini merupakan jenis foto yang menantang dalam menguji kreatifitas, imajinasi, dan kemampuan teknis.

  • FOTO JURNALISTIK

Foto jurnalistik adalah foto yang digunakan untuk kepentingan pers atau kepentingan informasi. Dalam penyampaian pesannya, harus terdapat caption (tulisan yang menerangkan isi foto) sebagai bagian dari penyajian jenis foto ini. Jenis foto ini sering kita jumpai dalam media massa (Koran, majalah, bulletin, dll).



TEKNIK DASAR PEMOTRETAN

Setelah kita mengenal jenis-jenis foto, sekarang saatnya untuk mengetahui bagaimana cara memotrer untuk menghasilkan sebuah karya foto. Seorang fotografer pada awalnya harus menguasai kamera dan bagaimana cara kerja kamera tersebut.

1.Focusing

Istilah focusing dalam fotografi adalah proses penajaman imaji pada bidang tertentu suatu obyek pemotretan. Focusing adalah teknik paling dasar tetapi begitu penting, karena untuk mendapatkan gambar yang tajam dan jelas kita harus melakukan focusing secara tepat. Pemilihan bidang atau titik tertentu dalam suatu obyek foto akan menentukan kesan “kedalaman” pada sebuah foto. Obyek yang akan kita hadapi dalam pemotretan tidak hanya sekedar benda diam saja, tetapi kita juga akan dihadapkan pada benda bergerak (misalnya foto olahraga), hal ini akan berpengaruh pada tingkat kesulitan dalam focusing. Untuk tahap pembelajaran, lakukanlah focusing pada benda diam dahulu hingga kita memahami tehnik focusing dengan tepat.

2. Pengaturan Speed

Proses pembakaran negatif di dalam kamera untuk mendapatkan imaji tertentu dipengaruhi oleh cara kerja dan kecepatan rana kamera. Kita bisa menentukan kecepatan rana saat pembakaran dengan pengaturan speed. Semakin tinggi speed (high speed) yang kita pakai maka akan semakin cepat pula rana bekerja dan sebaliknya, semakin rendah speed (low speed) yang kita pakai maka akan semakin lambat pula rana bekerja. Dalam dunia fotografi terdapat istilah pencahayaan normal (normal eksposure), pencahayaan rendah (under eksposure) dan pencahayaan tinggi (over eksposure). Pencahayaan normal adalah dimana kita menentukan speed dan diafragma yang tepat untuk mendapatkan gambar seperti pada keadaan obyek foto yang sebenarnya. Over eksposure(pencahayaan tinggi) adalah kompensasi pada pengaturan speed untuk mendapatkan intensitas pencahayaan yang lebih banyak daripada pencahayaan normal dan gambar yang dihasilkan pun lebih terang daripada kondisi aslinya. Under eksposure (pencahayaan rendah) adalah kompensasi pencahayaan pada pengaturan speed untuk mengurangi intensitas cahaya dibawah pencahayaan normal. Under eksposure sering digunakan ketika kondisi cahaya dalam pemotretan terlalu keras sehingga pengkompensasian akan diperlukan untuk mendapatkan gambar yang lebih maksimal.

3. Pengaturan Diafragma

Sebuah foto yang menarik adalah dimana foto tersebut terdapat dimensi ruang atau kesan kedalaman. Fasilitas diafragma pada lensa kamera berperan penting dalam mengatur pemisahan antara bidang background dan obyek utama. Diafragma juga menetukan seberapa luas ruang tajam pada foto. Semakin kecil bukaan diafragma semakin luas ruang tajam yang bisa kita dapatkan dan semakin besar bukaan diafragma maka semakin sempit ruang tajam dalam foto.



RESEP KREATIF PEMOTRETAN

1. Zooming

Zooming adalah kreatif pemotretan dengan memanfaatkan fasilitas ring zoom pada lensa kamera. Zoom in adalah membuat gambar obyek tampak lebih mendekat sedangkan zoom out adalah membuat gambar obyek tampak lebih menjauh. Dalam pengaturan speed dan penggunaan zoom yang tepat akan memberikan efek motion (gerak) pada hasil foto.

Bahan-bahan :

a. Kamera

b. Tripod (jika diperlukan)

c. Filter Radial Zoom (jika diperlukan)



Cara membuat :

a. Memotret zooming, membutuhkan speed yang lambat, jadi pastikan speed pada kamera anda dalam setting speed lambat, pastikan objek dalam keadaan fokus

b. Setelah speed ditentukan, maka lanjutkan dengan mengatur diafragma menyesuaikan speed agar mendapat pencahayaan yang normal

c. Setelah mendapat normal, jepret shutter bersamaan dengan memutar ring zoom, jika ring zoom diputar dari jauh ke dekat maka disebut zoom in, jika ring zoom diputar dari dekat ke jauh disebut zoom out

d. Jika kesulitan dengan speed lambat, anda bisa menggunakan tripod atau filter radial zoom.



2. Panning

Panning adalah teknik kreatif pemotretan untuk mendapatkan efek gerak pada obyek yang bergerak (balap motor, orang berlari, dll). Hasil dari teknik panning adalah adanya efek motion (gerak) pada latar belakang (background).

Bahan-bahan :

a. Kamera

b. Tripod (jika diperlukan)

Cara membuat :

a. Sama seperti memotret zooming, motret panning membutuhkan speed yang lambat agar menghasilkan efek gerak. Jadi pastikan kamera anda dalam setting speed lambat

b. Kemudian lanjutkan dengan mengatur diafragma agar mendapat pencahayaan yang normal

c. Pencet shutter bersamaan dengan mengubah arah kamera mengikuti gerak objek

d. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pastikan memencet shutter pada saat objek berada tepat di tengah kamera

e. Jika anda kesulitan dengan speed lambat, pergunakan tripod.



3. Double/Multi Ekspose

Adalah teknik pemotretan dengan mengkombinasikan beberapa perekaman imaji/gambar dalam satu bingkai frame. Teknik ini membutuhkan penuangan kreatifitas, ide, konsep dan pemahaman komposisi serta pencahayaan.

Bahan-bahan :

a. Kamera

b. Filter Multi Ekspose (jika diperlukan)



Cara membuat :

a. Memotret multi ekspose membutuhkan ide, konsep, dan kreativitas. Jadi pastikan anda sudah mempunyai ide

b. Jika anda sudah mempunyai ide, pastikan objek yang akan anda potret dalam keadaan pencahayaan normal (atur terlebih dahulu speed dan diafragmanya)

c. Jika pencahayaan sudah normal, pencet tombol shutter. Objek 1 sudah anda dapatkan

d. Untuk mendapatkan objek ke-2, 3, dst., ulangi urutan di atas. Akan tetapi sebelum memutar kokang, putar tombol multi ekspose kemudian baru di kokang, kemudian pencet shutter dan begitu seterusnya

e. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pastikan anda sudah memikirkan porsi untuk objek 1, 2, 3, dst dalam satu frame

f. Jika anda kesulitan, anda bisa menggunakan filter multi ekspose.



4. Bulb

Bulb adalah proses pemotretan dengan memanfaatkan fasilitas bulb pada kamera. Fasilitas bulb pada kamera memberikan keleluasaan dalam menentukan berapa lama rana terbuka untuk proses pembakaran. Bila kita memotret pada kondisi cahaya yang minim atau sangat kurang (pada malam hari), dan prioritas speed tidak mampu lagi mendapatkan pencahayaan normal maka fasilitas bulb pada kamera akan sangat membantu. Untuk menghindari goncangan (shaking), alat bantu tripod dan kabel release sangat dibutuhkan.

Bahan-bahan :

a. Kamera

b. Tripod

c. Kabel Release



Cara membuat :

a. Pastikan kamera anda dalam setting speed bulb

b. Untuk diafragma, terserah pada fotografer. Jika bukaan diafragma lebar maka efek dari sumber cahaya akan bulat. Jika bukaan diafragma sempit maka efek dari sumber cahaya akan berbentuk bintang

c. Untuk lamanya rana membuka (speed), fotografer dapat menentukan sendiri waktunya

d. Untuk menghindari goncangan pada kamera, lebih baik menggunakan tripod atau kabel release.



5. Siluet

Siluet adalah teknik pemotretan untuk menampilkan gambar obyek dalam keadaan gelap. Teknik ini memanfaatkan arah sumber cahaya yang berasal dari balik obyek yang akan kita potret. Teknik ini membutuhkan ketepatan pencahayaan agar obyek yang kita rekam tetap tampil dengan kontur dan ketajaman yang tepat.

Bahan-bahan :

a. Kamera





Cara membuat :

a. Teknik siluet ini memanfaatkan sumber cahaya yang datang dari balik objek sehingga pengukuran speed dan diafragma terletak pada sumber cahaya tersebut

b. Karena kita mengukur pencahayaan normal pada sumber cahaya yang ada dibalik objek, maka efeknya objek yang ada didepannya akan lebih gelap.



6. Makro

Makro adalah kreatif dalam pemotretan dengan menggunakan lensa makro untuk mendapatkan gambar obyek yang sangat dekat sekali. Foto makro juga digunakan untuk mendapatkan detail dan tekstur pada obyek yang kita potret. Dalam pemotretan makro, ruang tajam akan menjadi sempit sekali oleh karena itu dibutuhkan ketepatan pancahayaan dan focusing. Ketika tidak ada lensa makro untuk melakukan pemotretan ini kita bisa menyiasatinya dengan membalik lensa normal untuk pemotreta makro.

Bahan-bahan :

a. Kamera

b. Lensa Makro (jika punya)

c. Filter Close Up



Cara membuat :

a. Jika anda mempunyi lensa makro, maka memotret makro dapat dilakukan seperti pemotretan pada umumnya

b. Jika anda tidak mempunyai lensa makro, anda bisa menyiasati dengan cara membalik lensa normal

c. Jika anda masih kesulitan, pakailah filter close up



7. Framming

Framming adalah kreatif pemotretan dengan memanfaatkan unsur lain pada obyek yang kita potret sehingga membentuk kesan frame/bingkai tersendiri untuk menambah nilai keunikan dan menarik serta memperkuat kesan foto secara visual.

8. Strobis

Strobist adalah teknik pemakaian flash secara external, jadi tidak digunakan diatas hotshoe kamera, melainkan dengan bantuan trigger, atau Flash yang bisa digunakan sebagai master. Alat wireless trigger ini umumnya menggunakan gelombang radio atau sinar infra merah untuk menyalakan flash slave (flash lain harus mengikuti pada flash utama). Keuntungan dengan menggunakan teknik ini kita bisa memposisikan satu atau lebih flash di mana saja untuk mengatur arah, intensitas, cahaya untuk menghasilkan foto yg kita inginkan.